Gue punya dua temen. Sebutlah namanya Andi dan Budi.
Andi itu tipe orang yang suka tantangan. Tahun 2021, dia beli Bitcoin di harga Rp800 jutaan. Sempat naik sampai Rp1,3 miliar, dia jual sebagian. Sisanya dibiarin. Sekarang 2026, Bitcoin lagi Rp1,2 miliar-an . Naik turun kayak roller coaster, tapi Andi tidurnya nyenyak. Katanya, “Udah sering lihat merah, jadi kebal.”
Budi sebaliknya. Dia beli emas batangan 10 gram di 2022, harga sekitar Rp9 jutaan. Sekarang emas udah tembus Rp1,5 juta per gram, berarti 10 gramnya jadi Rp15 juta. Naiknya pelan, nggak bikin jantung deg-degan. Tapi tiap bulan, dia selalu ngecek harga dikit, senyum dikit, terus tidur.
Dua-duanya untung. Dua-duanya punya strategi beda.
Pertanyaannya: di tahun 2026 yang katanya ekonomi masih gonjang-ganjing ini, lo milih yang mana? Kripto yang naiknya bisa bikin lo kaya mendadak atau miskin mendadak? Atau emas yang pelan tapi pasti, kayak jalan di tempat tapi nggak bikin stres?
Jawabannya: bukan soal mana lebih cuan, tapi mana yang bikin lo bisa tidur nyenyak.
Kripto di 2026: Udah Nggak “Liar” Banget, Tapi…
Dulu, kripto itu kayak Wild West. Siapa pun bisa bikin coin, pump and dump di mana-mana, dan banyak orang ketipu. Tapi sekarang? 2026, regulasi mulai ketat. Bitcoin udah dianggap aset legal di banyak negara. ETF Bitcoin udah disetujui di AS . Institusi besar kayak BlackRock ikut main .
Tapi bukan berarti kripto udah aman seratus persen.
Data per Februari 2026:
- Bitcoin (BTC): Rp1,2 miliar – Rp1,3 miliar
- Ethereum (ETH): Rp80 jutaan
- Market cap total: sekitar Rp30.000 triliun
Volatilitas masih tinggi. Dalam sehari, bisa naik-turun 5-10%. Kalo lo punya Rp100 juta, dalam seminggu bisa jadi Rp90 juta atau Rp110 juta. Tegang? Banget.
Tapi ada yang berubah: sekarang kripto lebih terintegrasi sama sistem keuangan tradisional. Lo bisa beli Bitcoin lewat bank di beberapa negara. Bahkan ada perusahaan yang bayar gaji pake kripto.
Cerita 1: Andi si Trader Kripto
Andi, 29 tahun, karyawan swasta. Mulai main kripto 2020. Modal awal cuma Rp5 juta. Beli Ethereum pas harganya masih Rp5 jutaan. Sekarang udah Rp80 juta. Tapi perjalanannya nggak mulus.
“Gue pernah panic sell pas 2022. Bitcoin turun drastis, gue jual rugi. Eh besoknya naik lagi. Sejak itu, gue belajar: kalo nggak siap lihat merah, jangan main,” katanya.
Sekarang Andi punya aturan: hanya 20% dari tabungan yang dia taruh di kripto. Sisanya di instrumen lain. “Biar kalo merah, gue masih bisa tidur.”
Emas di 2026: Si Tua yang Masih Perkasa
Emas. Logam mulia yang udah jadi alat investasi ribuan tahun. Firaun aja pake emas. Sekarang 2026, emas masih jadi primadona, terutama pas ekonomi lagi guncang.
Data per Februari 2026:
- Harga emas Antam: Rp1,5 juta – Rp1,6 juta per gram
- Harga emas dunia: sekitar Rp2,4 juta per gram (tergantung kurs)
Kenaikan emas nggak spectacular. Dalam setahun, mungkin naik 10-15%. Tapi stabilitasnya? Nggak ada tandingan. Pas pandemi, pas perang, pas inflasi, emas selalu naik. Bukan karena orang jadi kaya, tapi karena orang cari aman.
Cerita 2: Budi si Kolektor Emas
Budi, 31 tahun, udah berkeluarga. Setiap bulan, dia beli emas 0,5 gram atau 1 gram. Nggak banyak, tapi rutin. Sekarang koleksinya udah 50 gram. Harganya sekitar Rp75 juta.
“Gue nggak pernah liat grafik tiap jam. Gue cek sebulan sekali. Kalo lagi butuh uang darurat, gue bisa jual sebagian. Nggak ribet,” katanya.
Budi pernah ditawarin temennya buat beli kripto. “Lu rugi, Bro, kalo cuma megang emas. Kripto bisa 10x lipat!” Tapi Budi diem aja. “Gue mah yang penting aman. Anak istri gue butuh kepastian, bukan spekulasi.”
Bukan Soal Mana Lebih Cuan, Tapi Mana yang Bikin Tidur Nyenyak
Nah, ini poin utama gue.
Di 2026, ekonomi global masih belum stabil. Inflasi di beberapa negara masih tinggi. Perang dagang antara AS dan China masih panas. Nilai tukar rupiah fluktuatif. Semua ini bikin investor gelisah.
Dalam situasi begini, pertanyaan investasi bukan lagi “mana yang return-nya paling gede?” Tapi “mana yang bikin lo nggak bangun jam 3 pagi kepikiran?”
Kripto bisa bikin lo kaya dalam semalam. Tapi juga bisa bikin lo miskin dalam 10 menit. Emas nggak akan bikin lo kaya mendadak. Tapi juga nggak akan bikin lo insomnia.
Pilihan ada di lo. Tipe lo yang mana? Yang suka adrenalin atau yang suka tenang?
Data Fiktif Tapi Realistis
Menurut survei Indonesian Investor Behavior 2026 (yang gue karang):
- 65% investor pemula milih kripto karena FOMO dan janji cuan cepat
- Tapi 48% di antaranya mengaku stres dan susah tidur pas harga turun
- Sementara investor emas, 82% mengaku “tenang” dan “tidak terlalu memantau harga setiap hari”
Artinya? Emas nggak bikin lo kaya, tapi bikin lo waras. Kripto bisa bikin lo kaya, tapi lo harus siap mental baja.
3 Hal yang Harus Lo Pertimbangkan Sebelum Pilih
1. Profil Risiko Lo
Lo tipe orang yang kalau lihat saldo turun Rp10 juta langsung mual? Atau lo bisa cuek aja sambil bilang “namanya juga investasi”?
Kalo lo gampang panik, emas mungkin lebih cocok. Kalo lo bisa nerima risiko tinggi dan nggak gampang stres, kripto bisa jadi pilihan.
Tapi inget: jangan pernah taruh uang yang lo butuhin dalam 1-2 tahun ke depan ke kripto. Karena bisa ilang.
2. Tujuan Investasi
Buat apa lo investasi? Buat beli rumah 5 tahun lagi? Buat nikah 2 tahun lagi? Buat dana pensiun?
Kalo tujuannya jangka panjang (di atas 5 tahun), lo bisa mix: sebagian emas, sebagian kripto. Kalo jangka pendek (1-2 tahun), emas lebih aman. Kripto terlalu fluktuatif buat jangka pendek.
3. Porsi yang Masuk Akal
Jangan all-in ke satu instrumen. Apalagi kripto.
Aturan sederhana: jangan lebih dari 10-20% portofolio lo di kripto. Sisanya di instrumen yang lebih stabil: emas, reksadana pasar uang, deposito, atau properti.
Dengan cara ini, kalo kripto merah, lo masih punya penyangga. Kalo kripto hijau, lo tetap dapet cuan.
3 Kesalahan Umum Investor Pemula
1. FOMO (Fear Of Missing Out)
Liat temen beli kripto, tiba-tiba cuan, langsung ikutan. Padahal nggak ngerti apa-apa. Beli di harga tinggi, pas turun panik, jual rugi.
Solusi: belajar dulu. Pahami apa yang lo beli. Jangan ikut-ikutan buta.
2. Overdosis Kripto
Semua tabungan dimasukin ke kripto. Harapannya kaya mendadak. Tapi pas pasar koreksi, saldo tinggal setengah. Panik, stress, bahkan depresi.
Solusi: atur porsi. Ingat aturan 10-20% tadi.
3. Anggep Emas “Kuno” dan “Nggak Kekinian”
Banyak anak muda nganggep emas itu investasi orang tua. Ketinggalan jaman. Padahal emas itu salah satu instrumen paling likuid di dunia. Bisa dijual kapan aja, di mana aja, diterima secara universal.
Solusi: jangan remehin yang udah teruji ribuan tahun.
Kripto dan Emas: Bisa Jalan Bareng?
Lo nggak harus milih salah satu. Banyak investor pinter yang punya dua-duanya.
Kripto buat growth. Dengan harapan naik signifikan dalam jangka panjang. Tapi siap-siap aja sama volatilitasnya.
Emas buat safety net. Buat jaga-jaga kalo ekonomi ambruk, kalo perang, kalo inflasi gila-gilaan. Emas udah terbukti jadi “safe haven” ribuan tahun.
Misalnya: lo punya Rp100 juta. Taruh Rp15 juta di kripto, Rp25 juta di emas, sisanya di deposito dan reksadana. Kalo kripto naik, lo untung. Kalo turun, lo masih punya emas dan instrumen lain yang aman.
Namanya diversifikasi. Jangan taruh telur dalam satu keranjang.
Cerita 3: Cici yang Pinter Diversifikasi
Cici, 28 tahun, kerja di startup. Gajinya lumayan, tapi nggak gede-gede amat. Dia mulai investasi 3 tahun lalu. Pola pikirnya sederhana: “Yang penting aman, tapi jangan ketinggalan cuan juga.”
Dia beli emas 1 gram tiap bulan. Udah 36 gram sekarang. Di samping itu, dia juga beli Bitcoin sedikit-sedikit tiap harga turun. Sekarang koleksi Bitcoin-nya sekitar 0,02 BTC.
“Kalo Bitcoin turun, gue diem aja. Yang penting emas gue aman. Kalo emas lagi turun (jarang sih), Bitcoin gue kadang naik. Jadi saling nutupin,” katanya.
Cici tidurnya nyenyak. Karena dia tahu: apapun yang terjadi di pasar, dia nggak bakal rugi total.
Kesimpulan: Pilih yang Bikin Lo Waras
Tahun 2026, ekonomi masih penuh ketidakpastian. Inflasi, perang, geopolitik, semua bikin kepala pusing. Dalam situasi begini, investasi yang paling berharga bukan cuma cuan, tapi ketenangan.
Investasi kripto vs emas bukan pertarungan siapa yang lebih unggul. Tapi soal siapa yang lebih cocok buat lo.
Kalo lo tipe orang yang bisa lihat saldo turun 30% sambil ketawa, kripto mungkin cocok. Tapi kalo lo tipe yang setiap turun dikit langsung cek harga tiap jam, mending emas aja.
Atau kalo lo pengen dua-duanya, mix aja. Yang penting porsinya pas. Jangan sampai investasi bikin lo stres, karena tujuan investasi itu buat bikin hidup lebih baik, bukan lebih susah.
Pada akhirnya, yang paling penting: bisa tidur nyenyak. Karena kalo lo nggak bisa tidur, cuan sebanyak apapun nggak ada artinya.
